
Tadi malam, bersama dua teman kerjaku, aku hang out di plangi. Setelah icip2 di Mister Bakso, kita ngobrol di Gloria's Jeans Coffee. Berdasarkan promosi temanku, dengan harga lebih murah, kita akan dapat kopi segelas gedhe yang nyam nyam. So, kesanalah kami "bertengger".
Ngobrol sana sini, sampailah pada topik hangat kami minggu ini. Salah satu temanku ini, tipe orang yang suka menyenangkan hati orang lain. Ia akan melakukan apa saja asal orang lain senang, bahkan walaupun ia tidak menginginkan untuk melakukan itu. Dan prakteknya memang tidak segalanya berjalan lancar. Untuk urusan kecil-kecil (dalam keseharian) sampai ke urusan yang tidak bisa dikatakan ringan, ia tetap melakukan kebiasaannya itu (that's why kami seringkali mengatakan padanya kalau dia punya nilai integritas rendah bila kaitannya dengan urusan pertemanan
Nah, kali ini, berkaitan dengan hubungan dengan kekasih hatinya. Mereka sudah berkomitmen lebih dari setahun dan mengingat usia kedua person ini, tentulah bukan lagi hubungan yang sekedar have fun. Tapi dasarnya temanku ini masih belum merasa mantap, ia masih enggan untuk melanjutkan ke fase pernikahan. Ia masih mencari pria impiannya sambil tetap menjalankan hubungan dengan kekasih yang sekarang. Namun tadi malam ia mengakui bahwa bulan lalu mereka sudah bertunangan (dan menyebalkannya, dia tidak cerita2 ke kami). Surprise dong..., dan otomatis kami bertanya, "Cincinnya mana?" Dan dia cuma tersenyum dan mengatakan kalau cincin itu tidak pernah dia pakai kecuali kalau mau bertemu dengan pasangannya. Gubraakkk....
Akhirnya, dia bercerita panjang....,yang intinya dia bertunangan karena desakan orang tua kedua belah pihak sementara dia sendiri tidak siap dengan komitmen lebih lanjut itu. Dan sekarang dia bingung sekali, dampaknya...,seminggu terakhir ini tampak sekali temanku ini berubah menjadi orang dengan daya dong rendah (baca:sering melamun, ngga connect kalau diajak ngobrol, agak sedikit2 autis dsb...dsb...). Mendengar ceritanya, kami berdua jadi dilema, satu sisi merasa kasihan tapi di sisi lain juga merasa kesal karena sikapnya. Yang ada akhirnya, encourage dia untuk mengambil tanggung jawab terhadap apa yang sudah dia jalankan, either suka atau tidak.
Pulangnya, aku berpikir. Apa yang dialami temanku ini, rasanya juga dialami banyak orang lain. Secara kultur kita "menuntut" bahwa at the beginning, love relationship is relation between 2 persons, but then, it'll grow up between 2 families. Penilaian-penilaian, pendapat dari keluarga maupun lingkungan masih membawa pengaruh besar bagi kita dan sedikit banyak mungkin bertentangan dengan diri kita sendiri. Membingungkan ya? Tapi pada akhirnya, kembali pada prinsip, "hidup ini pilihan". Seberapa besar pengaruh lingkungan kepada diri kita tergantung dari seberapa kita membiarkan hal itu mempengaruhi. So, sekuat apapun kami menguatkan temanku untuk tetap mengikuti value yang ada, it's up to her. Bola ada di tangannya sendiri. Kami hanya berharap, apapun yang dia putuskan adalah yang terbaik untuknya.